Melebur Sekat di Balik Jeruji: Kehangatan Hari Bhayangkara ke-80 di Rutan Polres Manggarai Barat

Melebur Sekat di Balik Jeruji: Kehangatan Hari Bhayangkara ke-80 di Rutan Polres Manggarai Barat

Tribratanewsmanggaraibarat.com — Labuan Bajo, Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada Rabu (01/07/2026) diperingati dengan cara yang berbeda dan menyentuh hati di Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat. Jauh dari kesan formalitas protokoler yang kaku, jajaran Kepolisian di ujung barat Pulau Flores ini memilih untuk mengetuk pintu-pintu sel tahanan, membawa kehangatan, dan berbagi sukacita tumpengan bersama belasan warga binaan yang tengah menghadapi proses hukum.

‎Suasana haru sekaligus khidmat menyelimuti selasar Rumah Tahanan (Rutan) Mapolres Manggarai Barat sejak pukul 10.00 Wita. Sebanyak 19 orang tahanan berdiri melingkar, melebur dalam kesetaraan tanpa sekat pembatas bersama para Pejabat Utama (PJU) Polres dan personel Satuan Perawatan Tahanan dan Barang Bukti (Sat Tahti).

‎Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen Polres Manggarai Barat dalam mengedepankan pendekatan hukum yang humanis dan persuasif, tidak hanya kepada masyarakat luas tetapi juga ke dalam lingkungan internal mereka sendiri.

Berbagi Kebahagiaan dan Penguatan Moral

‎Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, S.I.K., menegaskan bahwa peringatan hari lahir Korps Bhayangkara harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk mereka yang saat ini kehilangan kemerdekaan sementaranya akibat tersandung persoalan hukum.

‎"Peringatan Hari Bhayangkara ke-80 ini bukan hanya milik kami yang mengenakan seragam polisi, melainkan milik seluruh elemen masyarakat, termasuk saudara-saudara kita yang saat ini berada di dalam Rutan. Kami ingin berbagi kebahagiaan dan hadir secara utuh sebagai sesama manusia," ujar AKBP Christian dalam keterangannya.

‎Lebih lanjut, perwira menengah dengan dua melati di pundak tersebut menyampaikan bahwa keberadaan mereka di dalam rutan bukanlah akhir dari perjalanan hidup, melainkan sebuah halte sementara untuk melakukan refleksi diri yang mendalam.

‎"Proses hukum yang sedang berjalan saat ini adalah mekanisme pertanggungjawaban, namun di balik itu semua, kami ingin memberikan motivasi moral. Jadikan fase ini sebagai momentum terbaik untuk merenung, mengevaluasi diri, dan memantapkan niat untuk kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang jauh lebih baik dan bermanfaat di masa depan," tambahnya dengan nada persuasif yang menyejukkan.

Air Mata Haru di Balik Jeruji Besi

‎Puncak acara syukuran ditandai dengan pemotongan nasi tumpeng kuning berhias aneka lauk-pauk—simbol rasa syukur atas pengabdian Polri selama delapan dekade. Potongan tumpeng pertama diserahkan langsung oleh perwakilan Polres kepada AJ (48), seorang tahanan yang dituakan oleh para penghuni Rutan lainnya.

‎Saat menerima piring berisi nasi tumpeng tersebut, mata AJ tampak berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa di hari besar Kepolisian, mereka yang sering kali dipandang sebelah mata justru dirangkul dan diajak duduk satu meja.

‎"Jujur, kami sangat terharu dan sama sekali tidak menyangka akan ada perhatian sehangat ini di dalam sel rutan. Bagi kami, ini bukan sekadar tentang makan nasi tumpeng bersama, melainkan sebuah penghargaan kemanusiaan yang sangat luar biasa dari bapak-bapak polisi," ungkap AJ dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan haru.

‎Ia juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas perlakuan manusiawi yang mereka terima selama menjalani masa penahanan di Polres Manggarai Barat.

‎"Kami di sini diperlakukan dengan sangat baik, hak-hak ibadah kami dijaga, dan hari ini kami bahkan diajak merayakan hari ulang tahun Polri bersama-sama. Ini menjadi tamparan moral sekaligus motivasi kuat bagi kami semua untuk benar-benar bertobat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari," tuturnya tulus.

Menjaga Keamanan Lewat Pendekatan Humanis

Meski berlangsung dalam atmosfer kekeluargaan yang cair dan penuh kehangatan, prosedur pengamanan di Rutan Polres Manggarai Barat tetap diberlakukan secara ketat sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Personel Sat Tahti tetap bersiaga mengawal jalannya acara dari awal hingga akhir guna memastikan situasi tetap kondusif.

‎Pendekatan persuasif dan humanis seperti ini dinilai sangat efektif untuk membangun hubungan emosional yang positif antara petugas penjaga dan para tahanan. Dengan memanusiakan para tahanan, potensi ketegangan, tingkat stres di dalam sel, hingga risiko gangguan keamanan internal rutan dapat ditekan seminimal mungkin.

‎Kapolres Manggarai Barat berharap, lewat sentuhan personal ini, aspek pembinaan mental para tahanan dapat berjalan lebih optimal.

‎"Melalui kegiatan ini, kami berharap para tahanan tidak merasa terasing atau berkecil hati, sehingga mereka dapat menjalani proses hukum yang sedang berjalan ini dengan lapang dada," pungkas AKBP Christian.

‎Acara syukuran yang sederhana namun sarat makna ini ditutup dengan sesi makan bersama. Dalam kebersamaan siang itu, sekat antara aparat penegak hukum dan mereka yang sedang berhadapan dengan hukum seolah melebur, menyisakan ruang bagi nilai-nilai luhur kemanusiaan yang universal demi mewujudkan kedamaian yang substantif.**#