Dua Korban Meninggal Dunia, Polisi Bersama Warga Gerak Cepat Evakuasi Korban Laka 'Bis Kayu' di Ndoso

Dua Korban Meninggal Dunia, Polisi Bersama Warga Gerak Cepat Evakuasi Korban Laka 'Bis Kayu' di Ndoso

‎Tribratanewsmanggaraibarat.com — Labuan Bajo, Kecelakaan tunggal lalu lintas kembali terjadi di wilayah hukum Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah kendaraan roda enam (R6) jenis Colt bak penumpang—atau yang akrab dikenal masyarakat Flores sebagai "Bis Kayu"—terguling di ruas jalan raya Kampung Pateng, Desa Pateng, Kecamatan Ndoso, pada Selasa (7/7/2026) sekitar pukul 11.20 Wita.

‎Kendaraan sarat muatan tersebut tengah mengangkut rombongan tim sepak bola lokal asal Desa Golo Ru’a yang diperkirakan berjumlah 47 orang. Akibat insiden nahas ini, dua orang penumpang dilaporkan meninggal dunia setelah mendapatkan tindakan medis, sementara puluhan lainnya menderita luka berat hingga ringan, dan sisanya dinyatakan selamat tanpa luka.

Kronologi Kejadian: Hilang Keseimbangan di Jalur Ekstrem

‎Peristiwa tragis ini bermula ketika kendaraan Colt bernomor polisi EB 8843 GC yang dikemudikan oleh Albertus Nandito (28) melaju dari arah Desa Golo Ru’a menuju Desa Waning. Rombongan pemuda di dalam kendaraan tersebut dijadwalkan akan bertanding dalam sebuah turnamen sepak bola lokal.

Saking padatnya kapasitas penumpang, ruang di dalam bak kendaraan tidak lagi mencukupi. Alhasil, sebagian penumpang nekat duduk di atas atap (kap) "Bis Kayu" tersebut. Lanskap jalanan di wilayah Ndoso yang berbukit-bukit menuntut konsentrasi penuh dari pengemudi.

Petaka tak dapat dielakkan saat kendaraan melintasi kontur jalan yang menurun tajam disertai tikungan ke arah kanan di Kampung Pateng. Kombinasi antara beban muatan yang berlebih (overload) di bagian atas kendaraan serta kondisi jalan yang ekstrem membuat kendaraan mendadak goyah dan kehilangan keseimbangan. Mobil tersebut oleng ke samping kiri, kehilangan kendali penuh, hingga akhirnya roboh dan terguling di sisi jalan.

‎Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, S.I.K., melalui Kasat Lantas AKP I Made Supartha Purnama, S.Sos., membenarkan terjadinya kecelakaan maut tersebut dan membeberkan analisis awal penyebabnya.

‎"Kendaraan ini mengangkut rombongan tim sepak bola dengan estimasi muatan mencapai 47 orang. Kondisi ini sangat riskan karena sebagian penumpang berada di dalam kabin dan sebagian lainnya nekat duduk di atas atap kendaraan," ujar AKP I Made Supartha saat dikonfirmasi pada Rabu (8/7) pagi.

‎Ia menambahkan bahwa faktor topografi jalan yang menantang menjadi pemicu fatal ketika kendaraan membawa muatan di luar batas aman.

‎"Saat melintasi jalan menurun dan menikung tajam di Kampung Pateng, beban kendaraan menjadi tidak seimbang. Akibatnya mobil oleng ke samping dan langsung terbalik ke sisi kiri jalan," jelasnya.

Evakuasi Cepat Aparat dan Warga di Lokasi Kejadian

‎Mendengar laporan dari warga sekitar, personel Polsek Kuwus yang dipimpin langsung oleh Kapolsek IPTU Arsilinus Lentar segera bergerak cepat menuju tempat kejadian perkara (TKP). Meskipun jarak tempuh memakan waktu sekitar satu jam perjalanan dari Mapolsek, petugas berhasil tiba di lokasi pada pukul 12.30 Wita.

Aparat kepolisian bersama masyarakat setempat langsung bahu-membahu menyelamatkan para korban yang terjebak di dalam bak maupun yang terhimpit di bawah badan kendaraan yang terguling.

‎"Fokus utama kami saat tiba di TKP adalah menyelamatkan nyawa para korban terlebih dahulu. Kami langsung mengevakuasi seluruh korban ke fasilitas kesehatan terdekat, yakni Puskesmas Waning, untuk mendapatkan penanganan medis darurat," kata AKP I Made Supartha.

‎Namun, mengingat cedera yang dialami oleh sejumlah korban tergolong fatal, pihak kepolisian segera mengambil langkah taktis untuk melakukan koordinasi rujukan medis darurat demi menyelamatkan jiwa para penumpang.

‎"Setelah kami berkoordinasi secara intensif dengan Kepala Puskesmas Waning, diputuskan bahwa 10 korban yang mengalami luka berat harus segera dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Komodo di Labuan Bajo demi mendapatkan penanganan medis yang lebih komprehensif. Proses rujukan ini kami kawal langsung agar berjalan cepat dan lancar," tambah Kasat Lantas.

‎Sayangnya, meski sempat mendapatkan penanganan medis darurat di rumah sakit, nyawa dua korban, yakni Daniel Dakul (30) dan Hilarius Endro Amat (14), akhirnya tidak tertolong.

‎"Hingga saat ini, sebanyak dua penumpang dilaporkan meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan medis di rumah sakit," ungkap AKP I Made Supartha mendalaminya.

Data Resmi Korban Jiwa dan Luka-Luka

Berdasarkan data resmi yang dihimpun oleh Unit Penegakan Hukum (Gakkum) Sat Lantas Polres Manggarai Barat, berikut adalah rincian data korban dalam tragedi ini adalah 47 orang.

‎Sebanyak 37 korban saat ini menjalani perawatan di Puskesmas Waning. Sementara itu, dua korban atas nama Daniel Dakul (30) dan Hilarius Endro Amat (14), warga Paci, Kabupaten Manggarai Barat, dinyatakan meninggal dunia setelah sempat mendapatkan penanganan darurat di fasilitas kesehatan.

‎Kemudian, berdasarkan klasifikasi awal pemeriksaan medis di faskes rujukan RSUD Komodo Labuan Bajo terdapat korban luka berat (LB) 2 orang, dan korban luka ringan (LR) 6 orang.

Berikut adalah identitas 8 korban luka yang dirawat di RSUD Komodo dan telah terdata secara lengkap:

‎Yosep Syuhardi (22), Efrinanus Guntur (20), Gaspar Gas (59), Yosius Ngambut (16), Yustinus Firanus Mangkal (13), Adrianus Milani Anggur (16), Bentianus Janggur (24) dan Eduardus Pangkat (28).

‎"Dari total 47 penumpang, sebanyak 37 orang menjalani perawatan di Puskesmas Waning, 8 orang dirawat di rumah sakit, dan 2 orang dilaporkan meninggal dunia," sebutnya.

Sorotan Regulasi: Dilema 'Bis Kayu' dan Risiko Hukum

‎Kecelakaan ini kembali membuka tabir persoalan klasik transportasi di pedalaman Flores. Secara regulasi, penggunaan kendaraan angkutan barang seperti oto colt atau truk sasis yang dimodifikasi menjadi "Bis Kayu" untuk mengangkut manusia merupakan pelanggaran berat terhadap undang-undang lalu lintas.

‎Merujuk pada regulasi teknis keselamatan dan tata cara pengujian kendaraan bermotor, mobil penumpang dan bus umum wajib diproduksi pabrikan dengan standar uji keselamatan (Uji KIR) khusus untuk manusia. Sebaliknya, sasis truk atau colt didesain murni untuk distribusi logistik dan barang, bukan untuk keselamatan nyawa manusia.

‎"Bis kayu atau modifikasi bak belakang truk untuk penumpang melanggar regulasi teknis keselamatan dan tata cara pengujian kendaraan bermotor," papar Ajun Komisaris Polisi itu dengan lugas.

‎Meskipun praktik ini masih kerap dijumpai di daerah pedalaman Flores lantaran keterbatasan akses transportasi publik yang layak dan kondisi infrastruktur jalan yang menantang, polisi menegaskan bahwa toleransi terhadap pelanggaran ini harus dihentikan demi mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut.

‎"Kendaraan tersebut diperuntukkan untuk muat barang, bukan mengangkut orang. Kami minta dengan sangat agar penggunaan bis kayu untuk tidak lagi mengangkut orang atau penumpang," tegas AKP I Made Supartha.

Penyelidikan Hukum dan Imbauan Tegas Kepolisian

‎Pihak kepolisian bergerak cepat dalam menangani aspek hukum kasus ini. Pengemudi kendaraan, Albertus Nandito, saat ini telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

‎Unit Gakkum Sat Lantas Polres Manggarai Barat bersama Polsek Kuwus sementara melakukan olah TKP serta memeriksa sejumlah saksi mata, termasuk Bentianus Janggur (24) dan Eduardus Pangkat (28).

‎Belajar dari insiden memilukan ini, AKP I Made Supartha memberikan peringatan keras kepada masyarakat, pemilik kendaraan, serta penyedia jasa transportasi di wilayah Manggarai Barat, khususnya di wilayah hukum Polsek Kuwus yang didominasi jalur perbukitan curam.

‎"Kami mengimbau dengan sangat tegas kepada seluruh pengendara dan pemilik kendaraan, jangan pernah memaksakan kendaraan mengangkut penumpang melebihi kapasitas logisnya, apalagi membiarkan penumpang duduk di atas atap kendaraan," imbaunya.

‎Ia mengingatkan bahwa mengabaikan aspek keselamatan dasar di jalur ekstrem seperti ini sama saja dengan mempertaruhkan nyawa manusia di jalan raya.

‎"Kondisi geografis jalanan kita yang berliku, menurun, dan menanjak sangat rawan memicu fatalitas kecelakaan jika aspek keselamatan diabaikan. Mari kita jaga keselamatan bersama di jalan raya," pungkas Kasat Lantas.**#