Tembus Lautan Demi Senyum Anak Pesisir! Kapolda NTT Bangun Kembali Sekolah Terdampak Gempa di Pulau Kukusan
Tribratanewamanggaraibarat.com — Labuan Bajo, Duka akibat guncangan gempa bumi tektonik bermagnitudo 7.7 yang melanda Nusa Tenggara Timur pada pertengahan Agustus lalu masih menyisakan trauma mendalam. Di Dusun Kukusan, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat—sebuah wilayah pesisir terisolasi—guncangan hebat itu tak hanya merobohkan tanggul penahan ombak, tetapi juga meruntuhkan bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Hidayah.
Namun, keputusasaan warga di pulau terpencil tersebut perlahan berganti asa. Pada Selasa (1/9/2026), rombongan Polda NTT bersama Polres Manggarai Barat, Korpolairud Baharkam Polri, serta Tim Psikologi Polda Jawa Tengah menerjang gelombang lautan menuju Pulau Kukusan. Aksi kemanusiaan ini membawa misi utama: meresmikan revitalisasi gedung sekolah, memperbaiki tanggul penahan abrasi, dan menggelar layanan pemulihan trauma (trauma healing) bagi anak-anak pesisir.
Perjuangan Menembus Lautan Sejak Pagi
Perjalanan kemanusiaan ini telah dimulai ketika sang fajar belum sepenuhnya membumbung. Pukul 06.00 WITA, personel gabungan Polairud sudah berjibaku di bibir pantai Dusun Kukusan, membahu material untuk memperbaiki tanggul penahan ombak yang hancur diterjang abrasi pasca-gempa.
Di saat bersamaan, kesibukan luar biasa tampak di Pelabuhan Labuan Bajo. Tumpukan bantuan logistik—terdiri dari 100 paket sembako, perlengkapan mebeler sekolah, hingga paket nutrisi balita—dimuat dengan cermat ke atas kapal patroli perairan.
Rombongan utama yang dipimpin langsung oleh Kapolda NTT, Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., bertolak dari Marina Waterfront Labuan Bajo menggunakan armada Ditpolairud dan KSOP Labuan Bajo. Membutuhkan waktu beberapa jam membelah lautan sebelum akhirnya rombongan merapat di Dermaga Pulau Kukusan sekitar pukul 10.18 WITA.
Kedatangan tim gabungan ini disambut hangat dan penuh haru oleh masyarakat setempat melalui tarian tradisional serta prosesi pengalungan selendang adat khas Manggarai.
Mengembalikan Gelak Tawa Anak-Anak Pesisir
Sebelum fasilitas fisik sekolah diserahterimakan, fokus utama jajaran kepolisian tertuju pada pemulihan kondisi emosional anak-anak. Sebanyak 45 siswa-siswi MI Al-Hidayah berkumpul mengikuti sesi pemulihan trauma yang dipandu secara interaktif oleh Tim Psikologi Polda Jateng.
Gelak tawa, riuh tepuk tangan, dan keceriaan yang sempat hilang pasca-gempa perlahan kembali membumbung tinggi di wajah anak-anak pesisir tersebut. Momen haru semakin terasa ketika Sasti, seorang siswi kelas tinggi MI Al-Hidayah, memberanikan diri maju ke depan rombongan Kapolda NTT untuk membacakan puisi apresiasi buatan tangannya sendiri.
Kepala Sekolah MI Al-Hidayah menuturkan betapa terpukulnya pihak sekolah dan orang tua murid saat menyaksikan bangunan tempat anak-anak menimba ilmu hancur tak berdaya.
"Kondisi awal sekolah kami pascabencana benar-benar menimbulkan keputusasaan. Gedungnya hancur, tidak layak pakai, dan sangat membahayakan keselamatan anak-anak jika tetap digunakan," ujar Kepala Sekolah MI Al-Hidayah saat menyampaikan sambutannya dengan suara bergetar, Selasa (1/9/2026).
Ia menceritakan bahwa kebangkitan sekolah tersebut tidak terlepas dari kepekaan petugas di lapangan yang cepat tanggap melihat penderitaan warga.
"Berkat laporan cepat dari Kapten Marcel (Kapten Kapal Polairud) yang kemudian langsung direspons cepat oleh Bapak Kapolda NTT, mimpi kami untuk melihat revitalisasi sekolah ini akhirnya dapat terealisasi," tambahnya penuh syukur.
Selain menyampaikan terima kasih atas bantuan fisik berupa bangku dan meja belajar baru, Kepala Sekolah juga menyisipkan harapan besar terkait masa depan tenaga pendidik di wilayah terpencil.
"Mayoritas tenaga pendidik di Pulau Kukusan saat ini masih berpendidikan tingkat SMA. Kami sangat berharap adanya dukungan serta fasilitasi dari pemerintah maupun instansi terkait agar para guru di sini bisa melanjutkan kualifikasi pendidikan ke jenjang Sarjana (S1)," tuturnya.
Komitmen Pengabdian Tanpa Batas di Wilayah Terdepan
Dalam sapaan dan arahannya, Kapolda NTT, Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, menegaskan bahwa kehadiran Polri bersama mitra sinergis di Pulau Kukusan merupakan bentuk nyata pengabdian tanpa batas untuk masyarakat kepulauan terpencil.
"Kami hadir membawa Tim Psikologi Polda Jateng dan berkolaborasi bersama Tim Kompas.com untuk memulihkan fisik maupun aspek psikologis masyarakat di sini. Kami memohon maaf apabila bantuan yang disalurkan belum memenuhi seluruh kebutuhan, namun Polri berkomitmen untuk mengoptimalkan segala kemampuan demi membantu warga yang terdampak bencana," tegas Irjen Pol. Rudi Darmoko di hadapan warga Pulau Kukusan.
Ia juga menekankan pentingnya keberadaan sarana pendidikan yang aman dan kokoh sebagai fondasi utama bagi generasi penerus bangsa.
"Anak-anak adalah masa depan bangsa. Sarana pendidikan yang layak sangat penting demi melahirkan generasi masa depan yang tangguh. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk tetap bersabar, berprasangka baik (husnuzzon), dan bersama-sama berdoa agar duka bencana ini segera berakhir," ucap Kapolda NTT menguatkan.
Penyaluran Bantuan dan Langkah Evaluasi Berkelanjutan
Aksi sosial ini juga ditandai dengan penyerahan 100 paket sembako bencana alam—berisi beras premium, minyak goreng, mi instan, kopi, teh, dan susu—serta tas sekolah dan asupan gizi tambahan berupa susu SGM dan UHT untuk balita.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan peninjauan pengerjaan fisik tanggul penahan pantai oleh Kapolda NTT. Peninjauan ini dilakukan guna memastikan permukiman warga aman dari ancaman abrasi dan gelombang pasca-gempa.
Meski aksi tanggap darurat dan revitalisasi fisik telah selesai dilaksanakan, evaluasi lapangan menyisakan dua catatan strategis yang memerlukan intervensi lanjutan, yakni peningkatan kualifikasi akademis guru pesisir serta penguatan struktur fisik penahan gelombang secara permanen di Dusun Kukusan.**#
Humas Polres Manggarai Barat

